Joshie Kosei, Aktivitas Prostitusi Negeri Sakura Jepang yang Populer

Joshi kosei

Joshie kosei, aktivitas prostitusi negeri sakura jepang yang populer– Negara Jepang memang sukses membuat banyak orang di seluruh dunia kagum dan tertarik dengan kebudayaan dan gaya hidupnya.

Salah satu keunikan yang dimiliki oleh Jepang adalah aktivitas prostitusi dan dianggap “normal” oleh masyarakat di sana adalah Joshie Kosei. Dalam bahasa Indonesia, Joshie Kosei berarti gadis SMA (Sekolah Menengah Atas).

Biasanya, para pelaku yang berkecimpung di Joshie Kosei melibatkan para perempuan yang berusia di bawah 18 tahun. Dilansir dari suara, Joshie Kosei berkedok pekerjaan paruh waktu (part-time) dan biasanya, para pelajar tersebut ditugaskan untuk menemani para pria dewasa.

Hal yang dilakukan pun juga bermacam-macam. Misalnya saja seperti para pekerja di Joshie Kosei akan “dipertotonkan” untuk dilihat oleh para pria, memberikan pijatan, hingga hanya sekedar menemani di dalam sebuah ruangan. Namun, nggak sedikit kedok pekerjan Joshie Kosei menjadi bentuk pelecehan kepada para gadis SMA.

Namun, para pekerja nggak diberikan deskripsi pekerjaan secara gamblang oleh pihak pengelola. Biasanya, alasan para gadis remaja ini terus melakoni profesi ini adalah selain mendapatkan uang saku tambahan, rasa kepuasaan karena mendapat pujian dari pria-pria tersebut begitu berarti untuk mereka.

Dilansir dari detik, hal-hal umum yang dilakukan oleh para pekerja Joshie Kosei meliputi sesi foto (satsueikai), pijat refleksi (rifure), dan jalan bersama (sanpo). Nah, kegiatan “terselubung” inilah yang dimanfaatkan oleh para pria di Jepang untuk menyalurkan hawa nafsunya. Sebagai gantinya, para gadis remaja akan diberikan bayaran lebih, dan hal tersebut menjadi pemicu Joshie Kosei sebagai ladang prostitusi.

Sebenarnya, alasan Joshie Kosei begitu populer adalah ketika memasuki tahun 1900-an. Pada saat itu, banyak pria dwasa di Jepang mempunyai fetish (ketertarikan seksual terhadap benda mati), yakni seragam sekolah para gadis SMA. Bahkan, ada jasa yang menyediakan pakaian seragam lengkap yang belum dicuci sama sekali lalu akan dibeli oleh para pria dewasa.

Setelah itu, perkembangan seragam sekolah para gadis Jepang mulai beralih menjadi enjo kosai. Singkatnya, tren enjo kosai adalah menjadikan pria dewasa menyokong perekonomian para gadis. Sebagai gantinya, gadis-gadis tersebut harus bersedia menjadi tempat pelampiasan nafsu birahi para pria dewasa. Nah, tren enjo kosai inilah yang diubah namanya menjadi Joshie Kosei.

Gimana, apa kamu salah satu orang yang tertarik atau mempunyai fetish dengan wanita yang menggunakan seragam sekolah? Komen di bawah, ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *