Sebelum Menjalin Hubungan, Kenali 4 Ragam Attachment Style Versi Kamu!

attachment style

Sebelum menjalin hubungan, kenali 4 ragam attachment style versi kamu!- Saat kamu menjalin hubungan asmara dengan orang yang disayangi, tentunya kamu mempunyai cara tersendiri dalam mengutarakannya, bukan? Entah dengan cara menghabiskan waktu bersama atau sekedar mengucapkan kata-kata manis.

Namun, ada beberapa momen ketika kamu merasa bahwa pasangan nggak menunjukkan rasa kasih sayangnya seperti yang kamu harapkan. Selain memperhatikan dari segi love language-nya (Act of Service, Quality Time, Receiving Gift, Word of Affirmation, dan Physical Touch), ternyata ada satu hal lain yang wajib kamu ketahui, yakni attachment style.

Nah, attachment style tuh apa, sih?

Dilansir dari satupersenattachment style merupakan teori yang diciptakan oleh John Bowbly, yakni seorang psikiater dan psikolog asal Britania Raya.  Dalam Attachment Style Theory, Bowblymenjabarkan keterikatan emosional antar satu orang dengan orang lainnya. Biasanya, hubungan antar dua orang tersebut sudah sangat lekat dan saling terkoneksi.

Sebenarnya, attachment style pada dasarnya adalah menekankan pentingnya peran keluarga, mulai dari kontribusi orang tua (ayah-ibu) dalam memperhatikan bagaimana anak mereka tumbuh dan berkembang seiring berjalannya waktu. Meskipun terlihat sederhana, akan tetapi jika nggak dikelola dengan baik, akan mempengaruhi anak ketika dewasa nantinya, terutama saat menjalin hubungan asmara dengan orang lain.

Pembahasan Attachment Style Theory juga dibagi menjadi dua, yakni insecure dan secure attachment. Sama seperti namanya, insecure attachment menjadikan orang-orang yang mengalaminya selalu merasa khawatir dengan hubungan yang dijalani. Misalnya, ada wanita bernama Rania yang sangat menyayangi pasangannya dan enggan untuk berpisah meskipun hanya beberapa jam saja serta selalu bertanya “Apakah pasanganku mencintaiku?” sepanjang waktu.

Sedangkan secure attachment menjadikan anak saat dewasa mempunyai hubungan yang lebih stabil dan nggak mempunyai rasa curiga yang berlebihan pada pasangannya. Hal ini dikarenakan saat semasa kecilnya, orang tua si anak telah memberikan kasih sayang dan perhatian yang cukup.

Namun, ternyata, Attachment Style Theory ini ternyata mendapatkan perhatian dari seorang psikolog lulusan  Standford University, yakni Kim Barthomelow. Dalam hasil penelitiannya, Barthomelow membagi bentuk attachment menjadi empat bagian, di antaranya adalah:

  • Fearful Avoidance (Yakni perasaan ketika seseorang merasa serba salah saat bersama pasangannya.  Ketika terlalu dekat, ada rasa nggak nyaman karena gugup, akan tetapi ketika jauh, rasa rindu dirasa begitu menggebu-gebu)
  • Anxious Preoccupied (Ketika diri sendiri merasa begitu bergantung pada pasangan. Sedikit saja dicuekin atau nggak diberi kabar, maka timbul rasa cemas dan pemikiran yang berlebihan, lalu menghujat diri sendiri akibat hal yang sedang dirasakan saat itu)
  • Dismissive Avoidance (Saat seseorang secara emosional benar-benar independent dan nggak mau terlibat dalam ikatan emosional yang terlalu dalam. Misalnya saja, ketika pasangan sedang menangis karena sedih, orang-orang yang memiliki dismissive avoidance akan acuh dan nggak peduli. Bahkan, jika perlu, dirinya bisa mendorong pasangannya dan memberikan respon sangat dingin)
  • Secure (Seseorang yang sudah mencapai tahap secure tentunya mempunyai koneksi emosional yang baik dengan pasangannya. Nggak mengalami kesulitan saat mengutarakan apa yang dipikirkan dan dirasakan, serta mampu menyelesaikan setiap permasalahan dengan baik tanpa harus saling menyakiti dan menghakimi satu sama lain)

Kalau kamu ada terbesit pertanyaan “Sebenarnya, apakah tipe attachment seseorang bisa diubah?” Jawabannya adalah BISA. Hal ini dikarenakan setiap orang tentunya terus berkembang pola pikirnya, sehingga dapat memilah bagaimana cara menjalin hubungan yang baik dan tentunya sehat dengan pasangan yang dicintai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *